Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Kata Orang, Tidak Akan Ada yang Namanya Harapan Palsu Kalau Tidak Ada yang Geer Duluan

Makanya, tak usah menyebut seseorang itu PHP alias pemberi harapan palsu, toh salah sendiri, siapa suruh berharap? 😄

Pun demikian halnya dengan demokrasi. Anda kecewa karena penista agama ternyata hukumannya ringan di bawah demokrasi? Anda shock karena pemimpin pilihan Anda enggan menerapkan perda syariah di bawah demokrasi?

Sebenarnya tidak perlu kecewa. Tidak perlu kaget. Tidak perlu shock. Justru harusnya semakin sadar, bahwa inilah wajah asli demokrasi.

Salahnya kita, karena berharap hukum demokrasi akan menghukum penista agama dengan sanksi setimpal (apalagi konon yang bersangkutan memiliki bekingan yang cukup kuat). Salahnya kita, karena berharap pemimpin yang terpilih dengan jalan demokrasi akan serta merta menerapkan syariat. Salahnya kita, karena berharap...

Padahal dalam demokrasi, sistem perpolitikan memang didesain oportunistik. Segala sesuatu berjalan berdasarkan kepentingan segelintir manusia, bukan kepentingan semua orang. Buktinya, ratusan ribu bahkan jut…

Sesuatu yang Sempurna, Berarti Tak Butuh yang Lain Lagi

Gambar
Apa itu sempurna? Di mana-mana, yang namanya sempurna, berarti tidak ada kurangnya. Tidak ada cacatnya. Tidak ada minusnya. Sedikitpun. Setitikpun.

Kalau kita sudah memiliki sesuatu yang sempurna, tentu kita merasa cukup dengan hal itu. Tak butuh yang lain lagi, tak melirik yang lain lagi. Begitupun dengan Islam, agama yang (mungkin) kita peluk sejak lahir ini. Islam agama yang sempurna, yes. Kalimat ini mungkin sudah sering kita dengar. Bahkan kita ucapkan. Tapi, apa kita paham yang dimaksud 'agama yang sempurna'?

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Islam agama yang sempurna. Berarti Islam tak ada cacatnya, tak ada kurangnya, tak ada kudetnya. But always up to date. Singkat cerita, segalanya dia…
Will Durant, seorang penulis non muslim, dalam bukunya The Story of Civilization menceritakan betapa manisnya kerukunan umat beragama di bawah naungan Khilafah di era Bani Umayyah. Ia menuturkan, orang-orang Yahudi yang ditindas oleh Romawi, membantu kaum Muslim yang datang untuk membebaskan Spanyol. Mereka pun hidup aman, damai dan bahagia bersama orang Islam di sana hingga abad ke-12 Masehi.

Bahkan para pemuda Kristen yang dianugerahi kecerdasan pun mempelajari fiqih dan bahasa Arab bukan untuk mengkritik atau meruntuhkannya, tetapi untuk mendalami keindahan gaya bahasanya yang luar biasa. [Will Durant, Qishat al-Hadharah, juz XIII/296-297].

Anehnya, hari ini, berabad-abad setelah kisah manis itu terjadi, ada sekelompok orang yang menolak mentah-mentah ide syariah dan Khilafah dengan alasan bahwa Islam akan memecah-belah bangsa dan tidak cocok diterapkan pada masyarakat majemuk.

Mau tahu hal yang lebih aneh lagi? Sekelompok orang ini tidak datang dari kalangan Kristen…

Siapakah Atasanmu?

Ketika kita mengucapkan 'Allahu Akbar', maka sebenarnya di situ kita mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Besar, tidak ada lagi yang lebih akbar dari-Nya

Konsekuensi logis dari hal ini, yaitu bahwa ketaatan kita hanyalah kepada Allah. Bukan kepada yang lain, bukan taat kepada manusia, apalagi manusia yang menjadi musuh Allah

Ketika ada yang menghalangi dakwah Islam dengan dalih sedang menjalankan perintah dari atasan, maka pikirkanlah "Siapa atasan kita?" Apakah atasan yang kita takuti itu lebih dahsyat perintahnya daripada perintah Allah? Apakah atasan yang kita takuti itu lebih keras siksaannya dari Allah?

Ketika ada yang menghalangi syiar Islam dengan alasan mendapatkan tekanan dari pihak tertentu, maka pikirkanlah "Tekanan siapakah yang kita takuti?" Apakah tekanan dari manusia lebih kekal adanya daripada tekanan dari Allah? Apakah ancaman Allah berupa api neraka yang menyala tak ada apa-apanya dibandingkan ancaman manusia yang lemah?