Postingan

Space

Sedang ingin mengambil jeda. Istirahat dari keriuhan. Bukan, bukan keriuhan dunia, melainkan keriuhan di dalam pikiran sendiri. Bersahut-sahutan, menuntut diselesaikan satu per satu dengan sempurna. Saya harus duduk sejenak. Sedikit menepi, tak banyak bicara. Inginnya benar-benar hening. Untuk meyakinkan diri kembali. Untuk menginsyafi langkah sejauh ini. Untuk membesarkan hati, bersiap menuju perjalanan panjang yang menanti.:)

Sejak Awal Semuanya Memang Begitu

Sejak awal semuanya memang begitu
Kau harus berjuang sendiri
Menanggung seluruh beban sendiri
Luka, duka, kecewa
Siapa yang peduli dengan itu semua?

Sejak awal semuanya memang begitu
Kau harus terus berlari kencang
Walau hatimu masih terguncang
Kesal, hampa, amarah
Urusanmu sendiri, tak ada yang peduli

Sejak awal semuanya memang begitu
Kau sudah tamat belajar tentang rasa sakit
Sakitnya diabaikan, dikecewakan, ditinggalkan
Lalu sejak kapan kau mulai berharap begini?
Bukankah, sejak awal semuanya memang begitu?

Hidup ini, sayang
Bukan tentang seberapa banyak manusia yang memuji
Bukan tentang seberapa banyak manusia yang mengagumi
Bukan tentang seberapa banyak manusia yang menemani

Tapi kau harus terus berjalan, bahkan berlari
Walau yang menjadi teman hanya sepi, sendiri

Titik puncak hidup bukan di sini
Teruslah berlari
Walau sendiri

14/06/20
5.52 am

My Internal Battle

Katamu, kita harus selalu menyediakan ruang untuk kecewa, selama kita masih ada di dunia. Tapi, kenapa ketika ruang kecewa itu akhirnya terisi, kau malah berusaha untuk menghindar?Katamu, memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Tapi, kenapa ketika ingatan itu kembali mencuat, rasa nyeri di hatimu tak kunjung reda juga?Katamu, seluruh urusanmu sepenuhnya adalah transaksimu dengan Allah, gak ada urusan sama manusia. Tapi, kenapa ketika kau diabaikan dan semuanya tak sejalan dengan ekspektasi, diam-diam kau mengutuki keadaan?Katamu, kau sudah berputus-asa dari pengharapan atas makhluk. Tapi, kenapa ketika kau sudah merasa melakukan yang terbaik, ruang harapan di hatimu itu masih saja mendominasi?Katamu.... Tapi kenapa....Ah, semesta. Mengapa alurnya begitu membingungkan?

Dear Indi

Dear Indi... Setulus apapun kebaikan yang kamu lakukan, pasti akan ada saja orang yang tak suka.
Sebaik apapun niatmu, akan ada saja yang menganggapmu salah.
Sebesar apapun usahamu, akan ada saja yang menganggapmu kurang.Jadi, jangan lupa untuk selalu meluruskan niat, ya. Kejar ridho Allah saja, bukan yang lain. Mengejar ridho makhluk itu capek, melelahkan, sia-sia, gak guna, makan hati. Persiapkan saja dirimu untuk hari penghisaban di hadapan Allah nanti, tak usah risau dengan ragam cemooh dan cibiran manusia.Stop blaming yourself, remember that you are precious. Thank you for being awesome! ☺️

Eksploitasi Batu Bara dalam Pusaran Neoliberalisme, Islam Solusinya

What's Wrong with Being a Thinker?

Awalnya saya biasa aja pas ada yang bilang kalau hidup saya tuh terlalu serius, terlalu banyak mikir, gak nyantai dll. I didn't take it too much sampai saya menghitung ada sekitar selusinan orang yang mengatakan hal yang sama. Mereka bilang saya kebanyakan mikir. Tapi mereka tidak tahu, dengan mereka mengatakan hal itu, itu justru menambah intensitas berpikir saya. Haha.Suatu hari saya iseng ikut tes My Creative Type di Facebook. Saya tidak punya jaminan apakah indikator di sana cukup valid atau tidak. But, yeah, let's just check it. Saya tidak heran ketika hasil yang keluar: The Thinker. Terimakasih atas penegasan ini, setelah sebelumnya melihat kalkulasi karakter saya dari MBTI Test. Now I know myself better. Dulu, saya berpikir bahwa semua orang juga melakukan hal yang sama kayak saya. Kalian juga, kan? Kalian juga mikir, kan? Bilang iya, dong. Wkwk. Tapi ternyata tidak. Saya takjub ketika mengetahui ada orang yang hidupnya 'let it flow' aja. Saya takjub ketika meng…

Forget? No. JUST FORGIVE!

Beberapa waktu belakangan, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang, buku, dan asupan otak lainnya yang-amazingly- kompak mengajarkan saya tentang sebuah konsep; FORGIVE = FORGET. Jadi saya akan menuliskannya di sini dengan harapan saya akan terus mengingat pelajaran berharga ini.Pernah gak sih dalam hidup ini kita merasa ingiiiin sekali melupakan sesuatu (kejadian, orang, atau pengalaman), tapi rasanya seolah-olah semesta ini semakin mempertegas ingatan kita tentangnya? Yang paling buruk, jika itu terkait pengalaman pahit yang ingin sekali kita buang dari laci memori kita, sebab setiap kali ingatan itu muncul, ada rasa sakit yang selalu mencuat entah dari mana. Rasa sakit yang muncul bersamaan dengan rasa benci, jengkel, sedih, tapi juga hampa. Nah, selama ini saya berpikir bahwa melupakan hal-hal seperti itu mustahil bisa kita lakukan. Sampai suatu ketika, seserang menyadarkan saya...Bahwa yang seharusnya kita lakukan bukanlah usaha untuk melupakan, namun yang terpenting adalah u…