Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Space

Sedang ingin mengambil jeda. Istirahat dari keriuhan. Bukan, bukan keriuhan dunia, melainkan keriuhan di dalam pikiran sendiri. Bersahut-sahutan, menuntut diselesaikan satu per satu dengan sempurna. Saya harus duduk sejenak. Sedikit menepi, tak banyak bicara. Inginnya benar-benar hening. Untuk meyakinkan diri kembali. Untuk menginsyafi langkah sejauh ini. Untuk membesarkan hati, bersiap menuju perjalanan panjang yang menanti.:)

Sejak Awal Semuanya Memang Begitu

Sejak awal semuanya memang begitu
Kau harus berjuang sendiri
Menanggung seluruh beban sendiri
Luka, duka, kecewa
Siapa yang peduli dengan itu semua?

Sejak awal semuanya memang begitu
Kau harus terus berlari kencang
Walau hatimu masih terguncang
Kesal, hampa, amarah
Urusanmu sendiri, tak ada yang peduli

Sejak awal semuanya memang begitu
Kau sudah tamat belajar tentang rasa sakit
Sakitnya diabaikan, dikecewakan, ditinggalkan
Lalu sejak kapan kau mulai berharap begini?
Bukankah, sejak awal semuanya memang begitu?

Hidup ini, sayang
Bukan tentang seberapa banyak manusia yang memuji
Bukan tentang seberapa banyak manusia yang mengagumi
Bukan tentang seberapa banyak manusia yang menemani

Tapi kau harus terus berjalan, bahkan berlari
Walau yang menjadi teman hanya sepi, sendiri

Titik puncak hidup bukan di sini
Teruslah berlari
Walau sendiri

14/06/20
5.52 am

My Internal Battle

Katamu, kita harus selalu menyediakan ruang untuk kecewa, selama kita masih ada di dunia. Tapi, kenapa ketika ruang kecewa itu akhirnya terisi, kau malah berusaha untuk menghindar?Katamu, memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Tapi, kenapa ketika ingatan itu kembali mencuat, rasa nyeri di hatimu tak kunjung reda juga?Katamu, seluruh urusanmu sepenuhnya adalah transaksimu dengan Allah, gak ada urusan sama manusia. Tapi, kenapa ketika kau diabaikan dan semuanya tak sejalan dengan ekspektasi, diam-diam kau mengutuki keadaan?Katamu, kau sudah berputus-asa dari pengharapan atas makhluk. Tapi, kenapa ketika kau sudah merasa melakukan yang terbaik, ruang harapan di hatimu itu masih saja mendominasi?Katamu.... Tapi kenapa....Ah, semesta. Mengapa alurnya begitu membingungkan?