Forget? No. JUST FORGIVE!

Beberapa waktu belakangan, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang, buku, dan asupan otak lainnya yang-amazingly- kompak mengajarkan saya tentang sebuah konsep; FORGIVE = FORGET. Jadi saya akan menuliskannya di sini dengan harapan saya akan terus mengingat pelajaran berharga ini.

Pernah gak sih dalam hidup ini kita merasa ingiiiin sekali melupakan sesuatu (kejadian, orang, atau pengalaman), tapi rasanya seolah-olah semesta ini semakin mempertegas ingatan kita tentangnya? Yang paling buruk, jika itu terkait pengalaman pahit yang ingin sekali kita buang dari laci memori kita, sebab setiap kali ingatan itu muncul, ada rasa sakit yang selalu mencuat entah dari mana. Rasa sakit yang muncul bersamaan dengan rasa benci, jengkel, sedih, tapi juga hampa.

Nah, selama ini saya berpikir bahwa melupakan hal-hal seperti itu mustahil bisa kita lakukan. Sampai suatu ketika, seserang menyadarkan saya...

Bahwa yang seharusnya kita lakukan bukanlah usaha untuk melupakan, namun yang terpenting adalah usaha untuk memaafkan. Ya, memaafkan alias FORGIVE adalah kuncinya! Mengapa selama ini hal-hal buruk itu seolah tak ingin pergi dari ingatan kita? Karena ada rasa sakit di alam bawah sadar kita yang menahannya. Tak peduli berapa kali kita berusaha untuk melupakan, ia tetap akan tertahan. Karena kita tak pernah berusaha untuk memaafkan. Sebaliknya, jika kita sudah memaafkan, maka kita tak akan peduli lagi kita bisa melupakannya atau tidak.

Pernah baca novel 'Hujan' karya Tere Liye? Nah, saya suka sekali bagian akhir dari novel itu. Ketika Lail awalnya berniat untuk menghapus semua memori buruk dari hidupnya dengan bantuan mesin modifikasi ingatan, hingga membuat Esok panik karena khawatir Lail tidak akan pernah mengenalinya lagi. Ternyata, di detik-detik terakhir Lail memutuskan untuk memeluk semua kenangan-baik ataupun buruk- hingga mesin modifikasi ingatan itu tak mendeteksi satupun memori buruk, semua benang merah berubah menjadi benang biru. Lail memutuskan untuk bahagia. Lail memutuskan untuk menerima hidupnya, menerima dirinya.

Seperti pesan penting yang disampaikan dalam novel tersebut, "hanya orang-orang yang berani memaafkanlah yang akan bisa melupakan. Sebaliknya, jika kau tak mampu memaafkan, kau tak akan pernah bisa melupakan."

Saya juga pernah membaca sebuah hasil penelitian di suatu tempat, bahwa salah satu penyebab orang-orang Finlandia bisa memiliki tingkat kebahagiaan yang cukup tinggi adalah karena mereka mampu memeluk emosi negatif. Saya suka sekali kalimat ini: memeluk emosi negatif. Konotasinya mengarah bukan pada membuang kenangan, bukan pula pada memaksakan diri untuk melupakan, melainkan justru untuk menerima dengan lapang dada.

Di dalam Islam sendiri, konsep seperti ini mirip dengan konsep ikhlas dan tawakkal. Menerima setiap qadha Allah dengan penyerahan diri penuh kepada Allah, diiringi dengan keyakinan bahwa "wa maa indAllahi khayr".

Duh, saya kok terharu yaa nulis ini hehehe. :')

Dalam hidup ini ada baaaaaanyak sekali hal yang terjadi, ada yang sesuai dengan harapan kita, banyak yang tidak. Hehe. Tapi, dengan konsep di atas, kita sudah punya bekal untuk menghadapi setiap belokan, tikungan tajam, tanjakan, dan turunan dalam hidup kita (memang hidup ini tidak kalah ekstrem dengan roller coaster, ya kan).

Saya pribadi menganggap bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan ini-terutama hal-hal yang buruk-adalah cara Allah menempa kita, mengajari kita, membuat kita belajar dari kesalahan, lagi dan lagi. Di akhir, semuanya akan terasa seperti sebuah pelajaran yang mahal, yang justru akan membuat kita semakin mencintaiNya karena telah mencintai kita dengan caraNya yang tidak biasa. 😊

Sekian luapan kisah kali ini. Kapan-kapan, saya akan cerita lagi~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ukhti...