Awal tahun ini, saya menyadari satu hal sederhana: kita harus bersyukur ketika masih punya kesempatan untuk bersyukur. Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah... Ada banyak hal yang sebelumnya telah saya sesalkan, ada banyak hal yang membuat saya menggerutu, marah, dan sebagainya, bahkan termasuk hal-hal sederhana, dan kini saya sadar bahwa bisa jadi hal-hal itu akan diambil oleh Allah. Sayangnya, saya baru menyadari betapa saya membutuhkan-dan mencintainya- ketika saya sudah kehilangannya. Bahwa kesyukuran itu mahal sekali harganya, benar. Mensyukuri segala yang datang meskipun kita tidak senang. Mensyukuri segala yang menghampiri meski kita tak selalu menyukai. Namun pada akhirnya, kita akan selalu sadar bahwa semua yang berasal dariNya selalu baik, selalu indah, selalu manis. Bersyukurlah.
Baru semalam ngoceh panjang lebar sama seorang adik, "Kesulitan itu terkadang datang untuk menguji kedekatan kita pada Allah dan pada Alqur'an..." Malam ini langsung ujian. Ujian komitmen terhadap ucapan. Allah :')
Ceritanya saya lagi jenuh dengan semua ini(?). Maksudnya, saya sedang jenuh dengan segala hal tentang laporan, responsi, tugas pendahuluan, dan lain sebagainya. Saya juga muak melihat semua kesibukan-kesibukan ini, seakan tiada habisnya. Tiba-tiba saya berpikir (saya memang suka sekali berpikir tiba-tiba >.<), kenapa.... kenapa ya orang-orang selalu panic to the max kalo sudah menyangkut urusan kuliah. Ya, okelah, saya juga kadang-kadang panik. Tapi yang saya bicarakan disini, orang-orang memandang tugas kuliah sebagai sesuatu yang maha penting dalam hidupnya. Seakan tidak ada lagi kepentingan diatasnya. Apa tuh istilahnya? Study-oriented? Iya... itu. Yang kadang bikin ngeri, adalah mereka yang rela meninggalkan waktu shalat demi datang kuliah tepat waktu, soalnya takut di-alpa sama dosennya yang killer. Ada juga yang rela melakukan maksiat (tapi suka nggak sadar kalo itu maksiat), demi melakukan perintah sang senior yang terhormat. Rela disu...
Komentar
Posting Komentar