Postingan

Target tahun ini: 'Selesai' dengan diri sendiri. Hei, tak masalah kan jika baru menetapkan target ini sekarang?
Bukankah sudah berkali-kali kau jatuh cinta pada cara Allah mengatur urusan-urusanmu? Bukankah sudah berkali-kali kau menyaksikan, bagaimana Allah menjauhkanmu dari kemaksiatan dan kerugian, setelah sebelumnya kau ditimpa kesulitan yang teramat sangat? Bukankah sudah berkali-kali kau menyaksikan, setelah kehilangan yang menyakitkan, Allah menggantinya dengan berkali-kali lipat dari yang kau duga? Bukankah sudah berkali-kali kau menyaksikan, bagaimana Allah menghindarkanmu dari keburukan dan kesia-siaan, setelah sebelumnya kau didatangi kesibukan dalam kebaikan yang tak sudah-sudah? Lalu... Mengapa kali ini kau rapuh? Mengapa kali ini kau jatuh? Apakah telah habis prasangka baikmu pada Rabbmu? Apakah telah sempit hatimu untuk bertawakkal? Apakah telah sibuk engkau sampai tak ada celah untuk sekedar merenungi: ini ujian ataukah azab?
Buktinya, kau memang harus selalu belajar. 'Pembelajar' adalah status yang tak boleh sedetikpun terlepas dari dirimu. Seiring berjalannya waktu, kepalamu akan semakin terjejali dengan ilmu ini itu, teori ini itu, konsep ini itu. Dan kemungkinan untuk lupa dan khilaf itu akan selalu ada. Dulu kau tak menyangka, bahwa ada saatnya kau akan bingung membedakan qadha' dan qadar. Dulu kau tak menyangka, bahwa ada saatnya kau bingung menentukan wilayah yang dikuasai dan menguasaimu. Dulu kau tak menyangka, bahwa ada saatnya kau lupa hadits "Berkata baik atau diam." Dulu kau tak menyangka........ Plak. Sekali lagi kau tertampar! Tidak ada untungnya merasa lebih baik dari yang lain. Ah, belajar lagi, sana!

Tentang Hemat dan HTI

Melihat perbincangan yang sedang tren beberapa waktu belakangan, saya teringat sebuah tulisan dari (mantan) Jubir HTI, Ustadz Ismail Yusanto. Tentang hemat. Satu poin yang saya ingat dari tulisan itu adalah, kita jangan mudah tersanjung pada pejabat-pejabat yang menunjukkan gaya hidup hematnya. Seakan-akan dengan dia menghemat uang receh, dosa-dosanya menghamburkan kekayaan negara yang jumlahnya trilyunan itu langsung terhapuskan. Ya, sepertinya orang-orang mudah sekali tersentuh hatinya pada pejabat yang memakai barang-barang murah. Sendal jepit, kaos oblong, jalan kaki, tampang sederhana. Langsung melabeli: MERAKYAT! Hello, apa kabar hutang negara ribuan trilyun? Apa kabar aset-aset negara yang diobral kepada investor-investor asing? Apa kabar sumber daya yang disedekahkan pada kapitalis hingga rakyat sendiri cuma dapat limbahnya saja? Apa kabar? Tiba-tiba saya kepikiran, mungkin ini salah satu alasan HTI dipersekusi. Terlalu terang menampakkan sandiwara penguasa di rezim kapital...

Untuk Si (Calon) Ghuroba

Untuk seseorang yang sedang mengejar gelar Al Ghuroba'. Luruskan niatmu, tak ada apa-apanya segala letihmu jika tidak kau persembahkan hanya untuk Rabb-mu. Lillah, billah, fillah! Kuatkan tekadmu, ketahuilah bahwa jalan yang engkau tempuh adalah jalan warisan Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang memiliki jiwa kesatria. Tak ada waktu untuk bermanja apalagi menangis! Kokohkan langkahmu, sebab di sepanjang jalan ini akan banyak aral melintang yang sewaktu-waktu bisa menyandung kakimu, dan menjatuhkanmu dalam kegelapan yang mengerikan! Lapangkan hatimu, sebab akan banyak ujian dan cobaan bagi mereka yang mencoba berbaris dalam perjuangan ini. Bersiaplah menghadapi segala caci maki dan cibiran dari orang-orang yang tidak memahami, rangkul mereka dengan dakwahmu! Bersandarlah hanya kepada Allah, akan kau dapati bahwa hanya Allah yang dapat menghiburmu, dalam segala kesedihan dan kepenatan yang kau hadapi di sepanjang perjuangan ini! "'Islam muncul pertama kali dalam ke...
Saya tidak tahu lagi, deh. Untuk apa semua ini saya lakukan jika bukan karena ridha-Nya. Yang jelas, dunia saat ini begitu kejam. Begitu low-appreciation. Segala bentuk usaha keras dan perjuangan bisa saja tidak berharga sama sekali di mata mereka. Segala lelah juang kita bisa saja dinilai sama dengan hasil upaya mereka yang kerjanya hanya ongkang kaki dan mengklaim karya orang lain. Tak ada apresiasi, tak ada penghargaan. Si pekerja keras bisa sama nilainya dengan si copycat. Untungnya saya mengenal sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar pujian manusia, yang bernama "ridho Allah". Sesuatu yang jika saya kumpulkan, bisa saya pakai untuk membeli surga Allah. Bahkan buk a n hanya untuk saya, melainkan juga untuk orangtua saya dan orang-orang yang saya cintai. Aamiin. Maka, kembali saya mempertanyakan, untuk apa lagi hidup ini, aktivitas ini, kerja keras ini, jika bukan karena ridho Ilahi Rabbi? Sungguh, dunia ini remeh. Tidak ada apa-apanya. Oh, Allah. Letakkan dunia d...

Kata Orang, Tidak Akan Ada yang Namanya Harapan Palsu Kalau Tidak Ada yang Geer Duluan

Makanya, tak usah menyebut seseorang itu PHP alias pemberi harapan palsu, toh salah sendiri, siapa suruh berharap? 😄 Pun demikian halnya dengan demokrasi. Anda kecewa karena penista agama ternyata hukumannya ringan di bawah demokrasi? Anda shock karena pemimpin pilihan Anda enggan menerapkan perda syariah di bawah demokrasi? Sebenarnya tidak perlu kecewa. Tidak perlu kaget. Tidak perlu shock. Justru harusnya semakin sadar, bahwa inilah wajah asli demokrasi. Salahnya kita, karena berharap hukum demokrasi akan menghukum penista agama dengan sanksi setimpal (apalagi konon yang bersangkutan memiliki bekingan yang cukup kuat). Salahnya kita, karena berharap pemimpin yang terpilih dengan jalan demokrasi akan serta merta menerapkan syariat. Salahnya kita, karena berharap... Padahal dalam demokrasi, sistem perpolitikan memang didesain oportunistik. Segala sesuatu berjalan berdasarkan kepentingan segelintir manusia, bukan kepentingan semua orang. Buktinya, ratusan ribu ba...